Laman

Selasa, 02 Desember 2014

Pendidikan Indonesia


Pendidikan di Indonesia , saya memikirkan sesuatu tentang itu. Di mana para pelajar di Indonesia dituntut untuk menguasai 14 mata pelajaran. Dituntut untuk mencapai nilai diatas standard yang telah ditentukan. Sayangnya, pelajar belum bisa kritis terhadap satu permasalahan, mereka hanya dipaksa untuk bisa mengerjakan soal, mendapatkan nilai diatas standard, serta memahami semua materi di 14 pelajaran tersebut. Tetapi mereka tetap saja tidak bisa berkembang pesat, kreatifitas mereka masih terbatas, di Jepang saja, pelajar SD sudah diajarkan untuk membuat robot, sedangkan di ndonesia ? Pelajar Indonesia kebanyakan hanya diajarkan secara teori, sedangkan prakteknya hanya sedikit.
Belum lagi, di rumah , pelajar dipaksa orang tua untuk belajar, belajar, dan belajar. Apalagi untuk siswi sebagian orang tua mereka "mungkin" mengatakan seperti ini "nilai rapormu semester ini jelek, mulai sekarang jangan malam mingguan lagi, gak boleh main, pulang sekolah harus langsung ke rumah, saat ujian, HPmu, ayah/ibu yang pegang" pikiran mereka akan terbebani dengan paksaan orang tua , kemudian di sekolah, guru juga mengatakan "kenapa nilai kamu selalu kurang? Apakah ibu/bapak guru kurang jelas dalam mengajar? Kalau seperti ini terus kamu bisa-bisa tidak naik kelas" beban pikiran siswa akan bertambah. Mereka akan susah mengembangkan kreatifitas, kritis terhadap suatu permasalahan. Kalau untuk nilai saja sangat gampang di peroleh, tetapi yang terpenting, bagaimana siswa bisa menguasai satu bidang yang mereka minati, tanpa paksaan dari orang lain, sehingga mereka menjalankan dengan ikhlas, senang, dan bersungguh-sungguh , agar bisa sukses di bidang tersebut. Memang , pelajaran yang lain juga akan bermanfaat bagi siswa, tetapi jika diajarkan terlalu mendalam, apakah siswa tersebut akan menggunakan ilmu tersebut secara menyeluruh? Tentunya mereka akan menggunakan sesuai dengan bidang yang mereka minati. Dan seharusnya bidang mereka mulai diarahkan sejak dini, sehingga mereka akan bersungguh-sungguh mempelajari bidang tersebut tanpa tuntutan yang terlalu memaksa mereka memperoleh nilai yang sempurna. Kemudian mereka bisa menerapkannya di masyarakat dengan baik, dan ilmu tersebut tidak sia-sia.

Sekian sedikit pemikiran dari saya , apabila ada kesalahan saya mohon maaf, terima kasih.

Jumat, 05 September 2014

Cerpen Remaja : Hanya Beberapa Detik



Hanya Beberapa Detik

        Pada sore hari, warna langit mulai menjadi oranye, dedaunan gugur dari ranting pohon. Erik pergi ke SMA tempat dulu ia bersekolah, di daerah Surabaya. Medali itu masih menggantung di sebuah ranting pohon. Tak satupun orang mengambil medali tersebut.

        Satu tahun yang lalu, Erik mendapatkan medali tersebut dari kompetisi sepak bola antar SMA se-Surabaya. Tetapi ia tidak bisa memberikan medali tersebut kepada Nattasha hingga saat ini. Karena Nattasha tidak pernah kembali ke Surabaya.

        Beberapa teman Erik sedang berkumpul, Zein, “Hei Erik, kemarilah”
Erik, “Ada apa kalian berkumpul di sini ?” Zein, “Lihatlah cewek ini, dia sering pergi ke hotel pada malam hari” sambil menunjukkan foto Nattasha yang sedang menuju ke sebuah hotel.

        Saat Erik buang air kecil, tiba-tiba seorang cewek melompat dari pembatas toilet pria dan wanita. Setelah selesai buang air kecil, Erik segera mengejar cewek tersebut. Erik, “Hei kamu, mengapa kamu melompat dari pembatas toilet ?” Nattasha, “Maaf, toilet yang aku tempati pintunya dikunci dari luar, jadi aku melompat dari pembatas.”
Tetapi mereka pada saat itu belum saling kenal.

        Seusai pelajaran olahraga, Nattasha pergi ke ruang ganti. Namun saat ia membuka lokernya, ternyata rok miliknya telah di potong-potong menggunakan gunting, sehingga bagian bawah rok tersebut sobek-sobek.
Memang, omongan miring tentang Nattasha telah menyebar ke telinga semua siswa-siswi di sekolahnya, beberapa siswi tidak suka dengan Nattasha, ia sering masuk ke hotel pada malam hari, sehingga mereka menganggap Nattasha menjadi seorang pekerja seks komersial.

Tetapi Nattasha tetap tegar, tidak pernah menghiraukan omongan mereka. Nattasha hidup bersama kakaknya yang juga bekerja sebagai penyanyi, karena kedua orang tua Nattasha telah meninggal saat Nattasha masih berumur 8 tahun.

        Nattasha tetap memakai rok tersebut walaupun sudah sobek. Di sepanjang jalan menuju hotel, beberapa siswa dan siswi yang bertemu dengan Nattasha melihat ia dengan ekspresi yang tidak bagus. Erik juga sedang melihat Nattasha dari belakang, ia coba mengikutinya ke hotel.

        Setelah sampai di hotel, Nattasha segera ganti pakaian, kemudian bekerja. Erik masuk ke hotel tersebut, ia melihat Nattasha sedang menyanyi, lalu mereka berdua keluar dari hotel. Nattasha,”Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Erik, “Aku ingin meminjamimu celana, karena aku tadi melihatmu memakai rok yang sudah sobek, tetapi kelihatannya sekarang kamu sudah tidak memerlukan celana ini. Mengapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, bahwa kamu di hotel ini bekerja sebagai penyanyi, bukan seperti apa yang mereka katakan.”
        Nattasha tidak menjawab pertanyaan Erik, ia malah meninggalkan Erik. Erik, “Hei, apakah kita bisa menjadi teman?” Nattasha, “Jika kamu ingin menjadi temanku, jangan pernah tanyakan hal itu lagi.” Erik, “Baiklah, namamu siapa ?” Nattasha, “Namaku Nattasha, kalau kamu?” Erik, “Namaku Erik, bolehkah aku melihatmu menyanyi malam ini ?”
Nattasha, “Boleh saja.”
       
        Keesokan harinya, Erik pergi ke ruang ganti, bersiap-siap untuk pelajaran olahraga. Dua orang temannya sedang berada di ruang ganti. Zein, “Apakah kamu sudah mendapatkan seluruhnya dari Nattasha?” sambil menunjukkan foto Erik dan Nattasha yang sedang berjalan menuju hotel. Erik yang tidak terima dengan perkataan Zein , langsung memukul kepala Zein, kemudian lari keluar ruang ganti.

        Saat jalan di sebuah lorong sekolah, Erik bertemu dengan Nattasha. Nattasha terlihat sedih, Erik, “Ada apa Nat? Mengapa dirimu terlihat sedih?” Nattasha, “Kepala sekolah tau kalau aku bekerja di hotel.” Erik, “Sebaiknya kita pergi dari sini.” Erik langsung menggandeng Nattasha, kemudian berlari meninggalkan sekolah.

        Mereka berdua pergi ke Pulau Bali, naik travel mereka menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Sesampainya di Bali, mereka segera memesan 2 kamar untuk menginap di sekitar Pantai Sanur. Setelah itu , mereka pergi ke Pantai Sanur di sana mereka bermain gitar bersama, bernyanyi, bermain air, berkeliling di sekitar Pantai Sanur menggunakan sepeda. Hingga pada sore hari, mereka duduk di sebuah cafe di dekat Pantai Sanur, untuk melihat sunset.

        Setelah seharian jalan-jalan, mereka merasa lelah, kemudian kembali ke penginapan. Karena uang mereka sudah mulai menipis, Erik dan Nattasha hanya membeli sepiring soto untuk sarapan, mereka berdua memakan soto tersebut dan saling menyuapi. 2 hari kemudian uang mereka telah habis, terpaksa Erik memakai kartu kredit untuk membayar biaya penginapan.

        Keesokan harinya , setelah Erik dan Nattasha lari pagi, tiba-tiba ayah Erik datang menjemput. Terpaksa , Erik meninggalkan Nattasha, sebelum meninggalkan Nattasha, Erik memberikan sejumlah uang untuk biaya pulang Nattasha.

        Beberapa hari kemudian, sepulang bekerja, Nattasha berbincang dengan kakanya. Nattasha, “Kak, kakak pernah cerita kan, kalau punya teman di Jerman?” Melisa, “Ya, memangnya kenapa?” Nattasha, “Bagaimana kalau kita hidup di sana? Bekerja bersama teman kakak?” Melisa, “Apa kamu yakin bisa bertahan hidup di sana ?” Nattasha, “Aku yakin kak.” Melisa, “Baiklah, kalau begitu, kakak akan hubungi teman kakak.”

        Erik mencari keberadaan Nattasha, ia bertanya kepada teman sekelas Nattasha, tetapi mereka tidak ada yang tahu. Erik pergi ke hotel tempat Nattasha biasa bekerja, namun bos dari Nattasha juga tidak tahu.
Kemudian Erik duduk di tribun , dekat dengan lapangan sepak bola di belakang sekolahnya. Tiba-tiba Nattasha datang. Nattasha, “Hai Erik, apa yang kamu lakukan di sini?” Erik, “Aku sedang menunggumu, beberapa hari ini aku tidak bertemu denganmu, aku jadi kangen.” Nattasha, “Hehehe maaf, aku tidak enak badan beberapa hari. Oh iya, besok kan pertandingan final kamu ?” Erik, “Ya, aku akan mendapatkan medali emas untukmu.” Nattasha, “Heheheh... Terima kasih, aku besok akan datang mendukungmu. Baiklah Erik, ini sudah saatnya aku bekerja, sampai jumpa besok.” Erik, “Sampai jumpa Nattasha.”

        Sebelum berangkat ke Jerman, Nattasha menitipkan sepucuk surat kepada temannya untuk Erik.

Kepada
Erik

          Erik, maafkan aku, sebelumnya aku tidak mengakatan bahwa aku akan pergi ke Jerman, aku ingin memperbaiki hidupku dan kakakku ,aku di Jerman akan bekerja bersama teman kakakku. Selama ini hanya kamu yang ingin menjadi temanku, hanya kamu yang mau mengerti keadaanku, terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah kita ukir bersama. Semoga keadaanmu di Surabaya baik-baik saja.  Sekali lagi aku minta maaf.


                                                                             Surabaya, 10 April 2009


                                                                                      Nattasha


        Pertandingan final Erik telah berakhir, tetapi Nattasha tidak datang untuk mendukung Erik, ia telah memenangkan pertandingan sepak bola itu dan mendapatkan medali emas. Kemudian Erik pergi ke tribun , tempat ia dan Nattasha terakhir bertemu, Erik menunggu kehadiran Nattasha. Tetapi setelah beberapa jam menunggu, Nattasha tidak kunjung datang, akhirnya Erik pulang dan medali emas itu ia gantungkan pada sebuah ranting pohon.

        Sesampainya di rumah, teman Erik memberikan sebuah surat dari Nattasha. Setelah membaca surat tersebut, Erik hanya terdiam, kepalanya menunduk, dengan raut wajah yang sedih.


Kamis, 16 Januari 2014

5 Puisi Karya Saya

Bertahan
Kerasnya hatimu membuatku menyerah
Tidak beraturan rasanya saat bertemu denganmu
Mati rasanya hatimu
Beratnya diriku meninggalkanmu
Terkikis oleh air mata ini
Kokohnya cintaku padamu membuatku bertahan padamu
 
Berubah
Mengapa dirimu berubah 
Membuat diriku gelisah
Loncat-loncat seperti rubah
Hati ini rasanya seperti dibelah
Seperti buah
Akhirnya selesai sudah

Sahabat
Dirimu sungguh mengagumkan
Telah banyak waktu yang kau luangkan
Bersama diriku
Disaat susah dan senang
Engkau selalu datang
Jangan pernah kau menghilang
Aku tak mau berpisah
Bagai piring yang pecah
Yang tak bisa bersatu lagi

Anak Jalanan
Kulihat di sepanjang jalan
Anak jalanan
Terlantar tanpa perhatian
Tidak punya hunian
Hanyalah jembatan
Yang menjadi atap
Trotoar menjadi alasnya
Tanpa makanan
Walau perut sudah tak tahan

Bunga Mawar
Harummu sungguh menyebar
Di balik batang belukar
Yang melingkar
Pesonamu menarik serangga
Untuk menghisap nektar
Yang rasanya segar
Warnamu merah merona
Membuat para wanita
Sangat terpesona

Biografi Saya

           Saya lahir pada tanggal 13 Mei 1997 di Purbalingga , Jawa Tengah. Sejak saya dilahirkan hingga umur 3 tahun, saya tinggal di desa Grecol, Purbalingga, Jawa Tengah. Kemudian pada umur 3 tahun hingga sekarang saya tinggal di Kota Malang, Jawa Timur. Awalnya saya dan keluarga, tinggal di rumah kontrakkan di daerah Kalpataru, kemudian saat saya berumur 4 tahun pindah rumah di daerah Sudimoro, setelah mengontrak rumah di Sudimoro dan Kalpataru , keluarga saya mengontrak di daerah Tunggul Wulung, dan sampai saat ini saya dan keluarga sudah memiliki rumah sendiri di Kelurahan Tunggul Wulung. Hobi saya adalah bermain sepak bola. Sejak umur 8 tahun saya bermain sepak bola bersama teman-teman di jalanan kampung dan lapangan Tunggul Wulung. Saya sempat mengikuti sekolah sepak bola Putra Tunggul Wulung. Namun , sayang sekali sekolah sepak bola tersebut bubar karena ada kesalahpahaman antar pengurusnya. Saya memulai pendidikan saya di TK ABA 16 Ketawang Gedhe pada umur 5 tahun, saya telat sekolah karena keterbatasan biaya. Kemudian saya melanjutkan sekolah dasar di SDN Dinoyo II pada umur 7 tahun. Pada umur 12 tahun, saya lulus dari sekolah dasar dengan nilai yang memuaskan.
          Tepatnya pada tahun 2010 saya melanjutkan sekolah di SMPN 4 Malang. Sebenarnya saya ingin mengikuti kelas seni (PPST). Tetapi saya tidak mengikuti tes drama, karena orang yang saya suka masuk di kelas reguler. Di kelas 7 saya masuk di kelas 7D, selanjutnya di kelas 8 saya masuk di kelas 8F, kemudian di kelas 9F. Pada tahun 2013, saya lulus dari SMPN 4 Malang dengan nilai yang memuaskan.
          Tahun 2013, saya melanjutkan sekolah di SMAN 8 Malang. Di kelas 10 ini, saya ditempatkan di kelas 10 IPS 3. Teman sekelas saya kompak, baik, dan seru. Saya senang memiliki teman-teman seperti mereka. Saya berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor . Jarak dari rumah ke SMAN 8 adalah 5 km dan dapat ditempuh selama 10-15 menit dengan mengendarai motor. Sekian biografi saya, kurang lebihnya saya meminta maaf. Terima kasih

Sabtu, 30 Maret 2013

Download Internet Download Manager 6.1.5 Full version

Cara Install :
1. Download IDM 6.1.5 melalui 4shared.com, jika memerlukan akun baru coba untuk register dulu
2. Jika sudah didownload buka file tipe .rar
3. Jika sudah berhasil di instal, buka IDM-Patch0.2c
4. jalankan patch.
5. Nikmati IDM 6.1.5 Full version anda tanpa membayar sepeser pun.

Jika file sudah terinstal sebelumnya coba anda buka IDMAN
atau masa trial sudah habis buka IDM-Patch0.2c
Download IDM dibawah ini:
Internet Download Manager 6.1.5 Full Versi

Selamat mencoba :)