Laman

Jumat, 05 September 2014

Cerpen Remaja : Hanya Beberapa Detik



Hanya Beberapa Detik

        Pada sore hari, warna langit mulai menjadi oranye, dedaunan gugur dari ranting pohon. Erik pergi ke SMA tempat dulu ia bersekolah, di daerah Surabaya. Medali itu masih menggantung di sebuah ranting pohon. Tak satupun orang mengambil medali tersebut.

        Satu tahun yang lalu, Erik mendapatkan medali tersebut dari kompetisi sepak bola antar SMA se-Surabaya. Tetapi ia tidak bisa memberikan medali tersebut kepada Nattasha hingga saat ini. Karena Nattasha tidak pernah kembali ke Surabaya.

        Beberapa teman Erik sedang berkumpul, Zein, “Hei Erik, kemarilah”
Erik, “Ada apa kalian berkumpul di sini ?” Zein, “Lihatlah cewek ini, dia sering pergi ke hotel pada malam hari” sambil menunjukkan foto Nattasha yang sedang menuju ke sebuah hotel.

        Saat Erik buang air kecil, tiba-tiba seorang cewek melompat dari pembatas toilet pria dan wanita. Setelah selesai buang air kecil, Erik segera mengejar cewek tersebut. Erik, “Hei kamu, mengapa kamu melompat dari pembatas toilet ?” Nattasha, “Maaf, toilet yang aku tempati pintunya dikunci dari luar, jadi aku melompat dari pembatas.”
Tetapi mereka pada saat itu belum saling kenal.

        Seusai pelajaran olahraga, Nattasha pergi ke ruang ganti. Namun saat ia membuka lokernya, ternyata rok miliknya telah di potong-potong menggunakan gunting, sehingga bagian bawah rok tersebut sobek-sobek.
Memang, omongan miring tentang Nattasha telah menyebar ke telinga semua siswa-siswi di sekolahnya, beberapa siswi tidak suka dengan Nattasha, ia sering masuk ke hotel pada malam hari, sehingga mereka menganggap Nattasha menjadi seorang pekerja seks komersial.

Tetapi Nattasha tetap tegar, tidak pernah menghiraukan omongan mereka. Nattasha hidup bersama kakaknya yang juga bekerja sebagai penyanyi, karena kedua orang tua Nattasha telah meninggal saat Nattasha masih berumur 8 tahun.

        Nattasha tetap memakai rok tersebut walaupun sudah sobek. Di sepanjang jalan menuju hotel, beberapa siswa dan siswi yang bertemu dengan Nattasha melihat ia dengan ekspresi yang tidak bagus. Erik juga sedang melihat Nattasha dari belakang, ia coba mengikutinya ke hotel.

        Setelah sampai di hotel, Nattasha segera ganti pakaian, kemudian bekerja. Erik masuk ke hotel tersebut, ia melihat Nattasha sedang menyanyi, lalu mereka berdua keluar dari hotel. Nattasha,”Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Erik, “Aku ingin meminjamimu celana, karena aku tadi melihatmu memakai rok yang sudah sobek, tetapi kelihatannya sekarang kamu sudah tidak memerlukan celana ini. Mengapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka, bahwa kamu di hotel ini bekerja sebagai penyanyi, bukan seperti apa yang mereka katakan.”
        Nattasha tidak menjawab pertanyaan Erik, ia malah meninggalkan Erik. Erik, “Hei, apakah kita bisa menjadi teman?” Nattasha, “Jika kamu ingin menjadi temanku, jangan pernah tanyakan hal itu lagi.” Erik, “Baiklah, namamu siapa ?” Nattasha, “Namaku Nattasha, kalau kamu?” Erik, “Namaku Erik, bolehkah aku melihatmu menyanyi malam ini ?”
Nattasha, “Boleh saja.”
       
        Keesokan harinya, Erik pergi ke ruang ganti, bersiap-siap untuk pelajaran olahraga. Dua orang temannya sedang berada di ruang ganti. Zein, “Apakah kamu sudah mendapatkan seluruhnya dari Nattasha?” sambil menunjukkan foto Erik dan Nattasha yang sedang berjalan menuju hotel. Erik yang tidak terima dengan perkataan Zein , langsung memukul kepala Zein, kemudian lari keluar ruang ganti.

        Saat jalan di sebuah lorong sekolah, Erik bertemu dengan Nattasha. Nattasha terlihat sedih, Erik, “Ada apa Nat? Mengapa dirimu terlihat sedih?” Nattasha, “Kepala sekolah tau kalau aku bekerja di hotel.” Erik, “Sebaiknya kita pergi dari sini.” Erik langsung menggandeng Nattasha, kemudian berlari meninggalkan sekolah.

        Mereka berdua pergi ke Pulau Bali, naik travel mereka menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Sesampainya di Bali, mereka segera memesan 2 kamar untuk menginap di sekitar Pantai Sanur. Setelah itu , mereka pergi ke Pantai Sanur di sana mereka bermain gitar bersama, bernyanyi, bermain air, berkeliling di sekitar Pantai Sanur menggunakan sepeda. Hingga pada sore hari, mereka duduk di sebuah cafe di dekat Pantai Sanur, untuk melihat sunset.

        Setelah seharian jalan-jalan, mereka merasa lelah, kemudian kembali ke penginapan. Karena uang mereka sudah mulai menipis, Erik dan Nattasha hanya membeli sepiring soto untuk sarapan, mereka berdua memakan soto tersebut dan saling menyuapi. 2 hari kemudian uang mereka telah habis, terpaksa Erik memakai kartu kredit untuk membayar biaya penginapan.

        Keesokan harinya , setelah Erik dan Nattasha lari pagi, tiba-tiba ayah Erik datang menjemput. Terpaksa , Erik meninggalkan Nattasha, sebelum meninggalkan Nattasha, Erik memberikan sejumlah uang untuk biaya pulang Nattasha.

        Beberapa hari kemudian, sepulang bekerja, Nattasha berbincang dengan kakanya. Nattasha, “Kak, kakak pernah cerita kan, kalau punya teman di Jerman?” Melisa, “Ya, memangnya kenapa?” Nattasha, “Bagaimana kalau kita hidup di sana? Bekerja bersama teman kakak?” Melisa, “Apa kamu yakin bisa bertahan hidup di sana ?” Nattasha, “Aku yakin kak.” Melisa, “Baiklah, kalau begitu, kakak akan hubungi teman kakak.”

        Erik mencari keberadaan Nattasha, ia bertanya kepada teman sekelas Nattasha, tetapi mereka tidak ada yang tahu. Erik pergi ke hotel tempat Nattasha biasa bekerja, namun bos dari Nattasha juga tidak tahu.
Kemudian Erik duduk di tribun , dekat dengan lapangan sepak bola di belakang sekolahnya. Tiba-tiba Nattasha datang. Nattasha, “Hai Erik, apa yang kamu lakukan di sini?” Erik, “Aku sedang menunggumu, beberapa hari ini aku tidak bertemu denganmu, aku jadi kangen.” Nattasha, “Hehehe maaf, aku tidak enak badan beberapa hari. Oh iya, besok kan pertandingan final kamu ?” Erik, “Ya, aku akan mendapatkan medali emas untukmu.” Nattasha, “Heheheh... Terima kasih, aku besok akan datang mendukungmu. Baiklah Erik, ini sudah saatnya aku bekerja, sampai jumpa besok.” Erik, “Sampai jumpa Nattasha.”

        Sebelum berangkat ke Jerman, Nattasha menitipkan sepucuk surat kepada temannya untuk Erik.

Kepada
Erik

          Erik, maafkan aku, sebelumnya aku tidak mengakatan bahwa aku akan pergi ke Jerman, aku ingin memperbaiki hidupku dan kakakku ,aku di Jerman akan bekerja bersama teman kakakku. Selama ini hanya kamu yang ingin menjadi temanku, hanya kamu yang mau mengerti keadaanku, terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah kita ukir bersama. Semoga keadaanmu di Surabaya baik-baik saja.  Sekali lagi aku minta maaf.


                                                                             Surabaya, 10 April 2009


                                                                                      Nattasha


        Pertandingan final Erik telah berakhir, tetapi Nattasha tidak datang untuk mendukung Erik, ia telah memenangkan pertandingan sepak bola itu dan mendapatkan medali emas. Kemudian Erik pergi ke tribun , tempat ia dan Nattasha terakhir bertemu, Erik menunggu kehadiran Nattasha. Tetapi setelah beberapa jam menunggu, Nattasha tidak kunjung datang, akhirnya Erik pulang dan medali emas itu ia gantungkan pada sebuah ranting pohon.

        Sesampainya di rumah, teman Erik memberikan sebuah surat dari Nattasha. Setelah membaca surat tersebut, Erik hanya terdiam, kepalanya menunduk, dengan raut wajah yang sedih.