Hanya
Beberapa Detik
Pada sore hari, warna langit mulai
menjadi oranye, dedaunan gugur dari ranting pohon. Erik pergi ke SMA tempat
dulu ia bersekolah, di daerah Surabaya. Medali itu masih menggantung di sebuah
ranting pohon. Tak satupun orang mengambil medali tersebut.
Satu tahun yang lalu, Erik mendapatkan
medali tersebut dari kompetisi sepak bola antar SMA se-Surabaya. Tetapi ia
tidak bisa memberikan medali tersebut kepada Nattasha hingga saat ini. Karena
Nattasha tidak pernah kembali ke Surabaya.
Beberapa teman Erik sedang berkumpul,
Zein, “Hei Erik, kemarilah”
Erik, “Ada apa
kalian berkumpul di sini ?” Zein, “Lihatlah cewek ini, dia sering pergi ke
hotel pada malam hari” sambil menunjukkan foto Nattasha yang sedang menuju ke
sebuah hotel.
Saat Erik buang air kecil, tiba-tiba
seorang cewek melompat dari pembatas toilet pria dan wanita. Setelah selesai
buang air kecil, Erik segera mengejar cewek tersebut. Erik, “Hei kamu, mengapa
kamu melompat dari pembatas toilet ?” Nattasha, “Maaf, toilet yang aku tempati
pintunya dikunci dari luar, jadi aku melompat dari pembatas.”
Tetapi mereka
pada saat itu belum saling kenal.
Seusai pelajaran olahraga, Nattasha
pergi ke ruang ganti. Namun saat ia membuka lokernya, ternyata rok miliknya
telah di potong-potong menggunakan gunting, sehingga bagian bawah rok tersebut
sobek-sobek.
Memang, omongan
miring tentang Nattasha telah menyebar ke telinga semua siswa-siswi di
sekolahnya, beberapa siswi tidak suka dengan Nattasha, ia sering masuk ke hotel
pada malam hari, sehingga mereka menganggap Nattasha menjadi seorang pekerja
seks komersial.
Tetapi
Nattasha tetap tegar, tidak pernah menghiraukan omongan mereka. Nattasha hidup
bersama kakaknya yang juga bekerja sebagai penyanyi, karena kedua orang tua
Nattasha telah meninggal saat Nattasha masih berumur 8 tahun.
Nattasha tetap memakai rok tersebut
walaupun sudah sobek. Di sepanjang jalan menuju hotel, beberapa siswa dan siswi
yang bertemu dengan Nattasha melihat ia dengan ekspresi yang tidak bagus. Erik
juga sedang melihat Nattasha dari belakang, ia coba mengikutinya ke hotel.
Setelah sampai di hotel, Nattasha segera
ganti pakaian, kemudian bekerja. Erik masuk ke hotel tersebut, ia melihat
Nattasha sedang menyanyi, lalu mereka berdua keluar dari hotel. Nattasha,”Apa
yang sedang kamu lakukan di sini?” Erik, “Aku ingin meminjamimu celana, karena
aku tadi melihatmu memakai rok yang sudah sobek, tetapi kelihatannya sekarang
kamu sudah tidak memerlukan celana ini. Mengapa kamu tidak mengatakan yang
sebenarnya kepada mereka, bahwa kamu di hotel ini bekerja sebagai penyanyi,
bukan seperti apa yang mereka katakan.”
Nattasha tidak menjawab pertanyaan Erik,
ia malah meninggalkan Erik. Erik, “Hei, apakah kita bisa menjadi teman?”
Nattasha, “Jika kamu ingin menjadi temanku, jangan pernah tanyakan hal itu
lagi.” Erik, “Baiklah, namamu siapa ?” Nattasha, “Namaku Nattasha, kalau kamu?”
Erik, “Namaku Erik, bolehkah aku melihatmu menyanyi malam ini ?”
Nattasha, “Boleh
saja.”
Keesokan harinya, Erik pergi ke ruang
ganti, bersiap-siap untuk pelajaran olahraga. Dua orang temannya sedang berada
di ruang ganti. Zein, “Apakah kamu sudah mendapatkan seluruhnya dari Nattasha?”
sambil menunjukkan foto Erik dan Nattasha yang sedang berjalan menuju hotel. Erik
yang tidak terima dengan perkataan Zein , langsung memukul kepala Zein,
kemudian lari keluar ruang ganti.
Saat jalan di sebuah lorong sekolah,
Erik bertemu dengan Nattasha. Nattasha terlihat sedih, Erik, “Ada apa Nat?
Mengapa dirimu terlihat sedih?” Nattasha, “Kepala sekolah tau kalau aku bekerja
di hotel.” Erik, “Sebaiknya kita pergi dari sini.” Erik langsung menggandeng
Nattasha, kemudian berlari meninggalkan sekolah.
Mereka berdua pergi ke Pulau Bali, naik
travel mereka menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam. Sesampainya di Bali,
mereka segera memesan 2 kamar untuk menginap di sekitar Pantai Sanur. Setelah
itu , mereka pergi ke Pantai Sanur di
sana mereka bermain gitar bersama, bernyanyi, bermain air, berkeliling di
sekitar Pantai Sanur menggunakan sepeda. Hingga pada sore hari, mereka duduk di
sebuah cafe di dekat Pantai Sanur, untuk melihat sunset.
Setelah seharian jalan-jalan, mereka
merasa lelah, kemudian kembali ke penginapan. Karena uang mereka sudah mulai
menipis, Erik dan Nattasha hanya membeli sepiring soto untuk sarapan, mereka
berdua memakan soto tersebut dan saling menyuapi. 2 hari kemudian uang mereka
telah habis, terpaksa Erik memakai kartu kredit untuk membayar biaya
penginapan.
Keesokan harinya , setelah Erik dan
Nattasha lari pagi, tiba-tiba ayah Erik datang menjemput. Terpaksa , Erik
meninggalkan Nattasha, sebelum meninggalkan Nattasha, Erik memberikan sejumlah
uang untuk biaya pulang Nattasha.
Beberapa hari kemudian, sepulang
bekerja, Nattasha berbincang dengan kakanya. Nattasha, “Kak, kakak pernah
cerita kan, kalau punya teman di Jerman?” Melisa, “Ya, memangnya kenapa?”
Nattasha, “Bagaimana kalau kita hidup di sana? Bekerja bersama teman kakak?”
Melisa, “Apa kamu yakin bisa bertahan hidup di sana ?” Nattasha, “Aku yakin
kak.” Melisa, “Baiklah, kalau begitu, kakak akan hubungi teman kakak.”
Erik mencari keberadaan Nattasha, ia bertanya
kepada teman sekelas Nattasha, tetapi mereka tidak ada yang tahu. Erik pergi ke
hotel tempat Nattasha biasa bekerja, namun bos dari Nattasha juga tidak tahu.
Kemudian Erik
duduk di tribun , dekat dengan lapangan sepak bola di belakang sekolahnya. Tiba-tiba
Nattasha datang. Nattasha, “Hai Erik, apa yang kamu lakukan di sini?” Erik,
“Aku sedang menunggumu, beberapa hari ini aku tidak bertemu denganmu, aku jadi
kangen.” Nattasha, “Hehehe maaf, aku tidak enak badan beberapa hari. Oh iya,
besok kan pertandingan final kamu ?” Erik, “Ya, aku akan mendapatkan medali
emas untukmu.” Nattasha, “Heheheh... Terima kasih, aku besok akan datang
mendukungmu. Baiklah Erik, ini sudah saatnya aku bekerja, sampai jumpa besok.”
Erik, “Sampai jumpa Nattasha.”
Sebelum berangkat ke Jerman, Nattasha
menitipkan sepucuk surat kepada temannya untuk Erik.
Kepada
Erik
Erik, maafkan
aku, sebelumnya aku tidak mengakatan bahwa aku akan pergi ke Jerman, aku ingin
memperbaiki hidupku dan kakakku ,aku di Jerman akan bekerja bersama teman
kakakku. Selama ini hanya kamu yang ingin menjadi temanku, hanya kamu yang mau
mengerti keadaanku, terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah kita
ukir bersama. Semoga keadaanmu di Surabaya baik-baik saja. Sekali lagi aku minta maaf.
Surabaya, 10 April 2009
Nattasha
Pertandingan final Erik telah berakhir,
tetapi Nattasha tidak datang untuk mendukung Erik, ia telah memenangkan
pertandingan sepak bola itu dan mendapatkan medali emas. Kemudian Erik pergi ke
tribun , tempat ia dan Nattasha terakhir bertemu, Erik menunggu kehadiran
Nattasha. Tetapi setelah beberapa jam menunggu, Nattasha tidak kunjung datang,
akhirnya Erik pulang dan medali emas itu ia gantungkan pada sebuah ranting
pohon.
Sesampainya di rumah, teman Erik
memberikan sebuah surat dari Nattasha. Setelah membaca surat tersebut, Erik
hanya terdiam, kepalanya menunduk, dengan raut wajah yang sedih.